Banyaknya Batu Akik Mengungkit Ekonomi Kreatif

Pasca naiknya harga BBM November lalu, harga barang di picisan ikut melonjak. Kelompok yang hidup pas-pasan, hampir tidak dapat memenuhi kebutuhan hariannya. Daya belinya diturunkan drastis, sementara pajak produksi pertanian tak mengalami kenaikan dengan signifikan.

+Batu+Akik

Ditengah kemunduran ekonomi dan hingar-bingar pikuk politik pada Jakarta, ternyata booming batu akik mampu menjadi “obat” & hiburan. Dari di galau memikirkan pemastian terkini di Jakarta, warga lebih se menenggelamkan diri pada kemilau batu bumi itu. Inilah mayoritas pendapat para penyuka batu akik yang berhasil dihimpun oleh medsos dan wawancara.

Senada Batu akik dengan tersebut, Toto, Ketua koran Asosiasi Pedagang Batu Perhiasan kepada Kompasdotcom (2/2/2015) mengatakan: “Fenomena batu akik ini memang luarbiasa sesungguhnya. Saya juga nanap dalam jangka waktu setahun ini. Bahkan batu mulia (berlian, permata, intan) jadi kalah berpendar. Dari remaja datang ibu-ibu sekarang tutup mulai suka kerikil cincin. ”

Sejalan dengan fenomena itu, para perajin berangkal akik memanfaatkan kecemasan warga sebagai tertahan. Ekonomi kreatif laksana perajin batu akik tumbuh sangat cepat. Hampir disetiap tepas kota dan pedesaan Aceh Tengah ditemui perajin batu akik. Bahkan, Desa Baleatu yang sebelumnya cuma sebuah permukiman gaib, kini telah meloncat menjadi pusat kesungguhan dan penjualan kerikil akik.

Ekonomi subur berbasis kerajinan tersebut berhasil menjadi pengungkit ekonomi rakyat. Kerakal akik membuka tanah lapang kerja baru serta mereka berhasil terserang (penyakit) limpahan rupiah. Pelaku ekonomi kreatif dengan ikut menikmati kelimpahan rezeki batu akik bukan hanya perajin (pengasah batu akik), termasuk perajin logam, penjual logam akbar, dan para pencari bakal batu akik.

02/21/2015 06:35:52
lazar_shone.3168
Name
Email
Comment
Or visit this link or this one